Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Friday, August 30, 2013

Hi!

Hi!
Sudah tiga bulan sejak terakhir kali posting di sini dan nggak update-update lagi. Ckckckck. Pemalas.

Karena males nginget-nginget ada apa aja tiga bulanan ini, jadi saya mau posting gambar aja ya.

Juni

tumpengnya gede, kayak orangnya :D

Tumpeng di atas itu spesial dibuat untuk suami, kebetulan pas dia ulang tahun kemaren pas kita lagi di Solo. Ibu mertuaku keren banget ya, itu semua dibikin sendiri lho! Oiya, kalau ada yang bisa melihat hiasan di pinggiran tumpeng itu, yang dari daun pisang, itu salah satunya saya yang bikin lho *bangga. Iya, lihat aja yang paling aneh bentukannya yang mana :D


Juli

kue hasil malpraktek

Nah pas bulan puasa kemaren, salah satu hal yang menyenangkan adalah, bikin kue jadi-jadian ini bareng suami. Meskipun bentukannya aneh, tapi rasanya nggak kalah aneh lho :D tapi seneng rasanya bisa melakukan hal-hal nggak penting kayak gini bareng suami, apalagi di tengah kesibukan kerjaan pas puasa kemaren. Jujur, sedih rasanya saat lagi semangat-semangatnya ibadah (karena banyak temennya), kerjaan kantor justru lagi lumayan-lumayannya. Meskipun saya ini nggak punya peran penting di kerjaan, cuma figuran, garnish, you named it lah ya, tapi tetep aja beberapa kali dalam seminggu harus pulang telat, sampe rumah udah jam 9 jam 10an,  tarawih di masjid juga udah bubar. Saat yang lain lagi pada tarawih berjamaah, atau lagi tadarusan, bisa jadi saya masih di kantor atau di jalan. Sampe rumah juga udah capek, itu meninggalkan rasa bersalah tersendiri. Bukanya sok rajin, sok alim, tapi justru karena saya ini imannya masih lemah dan labil. Malah curcol.


Agustus


seadanya

seadanya lagi

Agustus tiba, saatnya mudik! Saatnya bersilaturahim sama teman-teman lama, sama sodara-sodara. Berhubung kita ga kepikiran nenteng-nenteng kamera, jadilah cuma dokumentasi seadanya dari hp :(
gapapa juga sih, yang penting silaturahimnya.

Itu sedikit update basi dari saya, hehe :D





Thursday, December 6, 2012

Kamis Terakhir di Kota Ini

Terbangun dini hari. Kamis terakhir di kota ini.

Yak, kurang dari seminggu lagi kami mau pindahan, melipir ke pinggiran Jakarta, memulai hidup baru di sana. Nantinya, setiap hari kami akan menempuh perjalanan antar kota antar provinsi :D Benar sekali, di puncak musim hujan seperti prediksi banyak orang :)

Ada sih pihak-pihak yang, apa ya istilahnya, semacam meng-undurestimate-kan kemampuan survival saya gitu kali ya. 

"Tar kamu kalo udah di sana tu pasti datengnya siang, penampilannya bluwek, nyampe ruangan tidur-tiduran. Udah gitu ini kan lagi puncaknya musim ujan, daerah bintaro itu kan nanggung, ga ada kereta juga kan? Kalaupun ada kereta mau ke tanah abangnya aja perjuangan banget tuh."

So?

Jadi, untuk Anda yang terhormat perlu ketahui saja ya, saya bukan tipe orang yang suka makan gaji buta. Saya rasa saya cukup dewasa untuk bisa bertanggung jawab pada diri sendiri, dan pada apa yang (seharusnya) jadi tanggung jawab saya. Kita lihat saja nanti, apa saya tetap bisa bekerja, tetap bisa produktif, meski nantinya harus berangkat pagi-pagi buta. Untuk soal transportasi, saya rasa motor kami masih bisa diandalkan (yes, I love motobiking). Kalau mau naik kereta juga bisa. It's not a big deal sepertinya. Terus ya, yang namanya hidup itu sendiri bagi saya adalah perjuangan. Jadi, kalau harus 'berjuang' ke tanah abang terus kenapa?

Saya tahu, Anda bisa mengandalkan mobil Anda untuk mengantar Anda ke mana saja, dari rumah ke kantor, dan sebaliknya. Anda tidak perlu susah-susah berjuang ke tanah abang, ngojek atau naik angkot, tidak perlu juga berdesak-desakan di commuter line, atau hujan-hujanan naik motor menempuh jarak yang tidak dekat. It sounds nice :)

Well, saat ini yang saya sedang lakukan adalah berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Ga cuma dari sisi materi tentunya, tapi kehidupan yang holistik. Saya sadar, segala sesuatu butuh proses (panjang). Nanti kita lihat aja ya hasilnya gimana.





Thursday, April 28, 2011

Tentang Pernikahan

Dilatarbelakangi oleh kekesalanku pada seorang teman, jadilah aku bikin postingan ini.
Jadi, si teman ini kan ceritanya habis ngelamar seseorang untuk dijadikan istri. Sampai sini ga ada masalah. Tapi, akan lain ceritanya kalau dia jadi mendikte dan berkhutbah tentang pernikahan. Nunggu apa sih? Nunggu kakak nikah duluan? Nunggu kuliah selesai? Tidak ada dalilnya bla..bla..nunggu kakak nikah itu cuma adat j*w* yang kuno, blaaa...blaaaa...jadi kesel!

Terlepas dari apakah yang aku (kami) tunggu, aku percaya bahwa saat kelahiran, pernikahan dan kematian itu sudah tercatat di ‘buku’-Nya. Mau sengotot apapun, kalau belum waktunya ya ngga akan bisa terwujud. Maaf kalau  salah, tapi ini yang kupercaya.


picture taken from here

Sedikit flashback ke belakang, kalau mau jujur-jujuran, siapa sih  yang ngga mau nikah? Sebelumnya, aku pun sudah mengutarakan maksudku untuk menikah muda ke si pooh, nggak muda-muda banget sih, tapi dulu pengennya di usia 24. Tapi, berhubung terhalang oleh karena kakaknya belum menikah, dan orang tuanya pengen kakaknya nikah duluan, aku bisa berbuat apa?

Ngotot? Mendesak? Udah pernah, sering malah. Pokoknya aku melakukan ‘serangan agresif’, mulai mempertanyakan keseriusannya dan semacamnya lah. Udah bener-bener kayak orang sakit jiwa, nyeceeeer terus. Tapi dengan cara ngotot-ngototan jadinya malah menguras energi kami. Dikit-dikit jadi masalah, dikit-dikit jadi ribut. Aku jadi mengalami yang namanya stress. Dan itu ngga enak banget!

Setelah semua daya upaya yang kulancarkan tidak berhasil, udah capek lah pokoknya, ya sudah, aku memilih untuk jadi lebih kalem. Tar lah, kalau waktunya tiba pasti juga bakal kejadian. Lalu, di saat semua itu sudah tidak kupikirkan lagi, e...tau-tau malah dapat surprise. Aku dilamar. Senang? Pastinya! Setelah kedua keluarga bertemu, dibahas kapan waktunya dan lain sebagainya. So, di sini aku mau menekankan kalau kami pun sudah berencana menuju ke pernikahan. Meski tidak dalam waktu dekat, tapi sudah ada tanggal (Semoga Allah memudahkan jalan kami, amin). 

Jadi, buat yang sudah diberi nikmat bisa segera menikah mbok-ya-o, ngga usah sombong. Jangan mentang-mentang sudah mau nikah duluan terus ‘memandang rendah’ yang belum bisa segera menikah, apalagi tanpa tau penyebabnya. Tanpa mau tau gimana perasaan seorang perempuan yang kebetulan tidak seberuntung dirinya yang bisa cepet-cepet nikah. Tolong pahami, ga semua orang bisa punya nasib yang sama baiknya. Sekian dan terima kasih.