Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

Tuesday, October 22, 2013

Weekend Escape: Empat Jam di Bogor


Setelah menghabiskan hari-hari libur panjang dengan cuma di rumah aja, akhir pekan kemarin kita maksa buat jalan-jalan seadanya. Yang penting keluar rumah. Pilihan jatuh ke Bogor, yang gampang dan nggak ribet dan banyak makanannya.


us


How do we got there?
Biar praktis, kita naik kereta commuter line. Kita berangkat dari Stasiun Pondok Ranji ke Tanah Abang, kereta jam 7.30. Dari Tanah Abang nyambung kereta yang ke arah Depok/Bogor. Karena yang datang duluan kereta ke Depok, jadi kita naik yang ke Depok, baru pas sampai Depok nyambung lagi yang ke Bogor. Sampai Bogor sekitar jam 9 lewat. Terdengar ribet? Tenang, aslinya sih nggak seribet penjelasan saya ini kok, hehe. Total yang kita keluarkan untuk tiket kereta ini sekitar Rp7 ribuan saja per orang.

What do we did?
Sampai di Bogor kita sarapan bubur ayam di depan Taman Topi. Buburnya enak, kuahnya berasa banget bumbunya. Tambah sate ati jadi Rp8 ribu saja seporsi. Yang ini sebenernya nggak ada di itinerary, cuma karena mendadak kelaparan aja.

Dari depan Taman Topi kita naik angkot nomor 02 ke Kebun Raya Bogor. Niatnya sih mau jadi guide buat suami yang belum pernah ke sini. Eeee ternyata malah nyasar gara-gara masuknya bukan dari main gate, wakakak. Tiket masuk untuk dewasa Rp15 ribu, itu kayaknya harga kalau weekend, kalau hari biasa mungkin lebih murah kali ya.

Senyasar-nyasarnya di sini sih masih enak, adem dan sejuk di mana-mana. E tapi agak panas juga ding, soalnya kita nyampe sini udah jam 10an. Daripada makin nyasar, kita duduk-duduk aja di depan kolam. Ngeyup.



KRB


Udah puas duduk-duduknya, sempetin bentar buat jalan-jalan. Niatnya sih mau nyari jembatan gantung. Udah nunjuk-nunjuk arah dengan sotoynya, dulu perasaan di sini deh, dari sini ke sana, ke sini, abis itu ke situ. Dan tetep nggak ketemu, hahah. Udah deh jadinya cuma jalan-jalan nggak tentu arah. Mau ikutan mobil yang keliling itu, eee kata mba-mba penjaganya mau tutup dulu karena mereka mau ada acara. Mau sewa sepeda, sama aja mau tutup juga. Padahal seru juga kayaknya kalau bisa keliling Kebun Raya pakai sepeda (biaya sewa sepeda Rp10 ribu/orang).

Yaudah deh, karena udah makin siang juga, jadi kita putuskan untuk udahan aja di sininya. Nah pas mau keluar, ngikngok, baru deh nemu main gatenya. 


KRB_gate
main gate dengan penampakan
Dan di deket main gate itu ada peta Kebun Rayanya, gede banget. Untuk selanjutnya kayaknya kalau ke sini lagi mending baca dulu petanya baik-baik, biar nggak nyasar-nyasar tak tentu arah. 


map

Catatan (lagi) kalau mau ke Kebun Raya lagi:
1. bawa medicated ointment kayak zambuk atau semacamnya, buat antisipasi siapa tau kena gigitan serangga
2. bawa minuman secukupnya, soalnya kalau di dalam harganya bisa berlipat-lipat, hehe
3. bawa alas duduk bila perlu, in case rumputnya lembab. Di dalam ada sih yang jual, Rp10 ribu per lembar
4. berangkat lebih pagi, biar ga kepanasan dan bisa sepedaan
5. bawa kamera buat ambil gambar, siapa tau hasilnya lebih oke dibanding jepretan hp
6. baca peta dulu sebelum keliling

Keluar dari Kebun Raya pas adzan dzuhur, kita langsung nyari angkot 08A dari depan Kebun Raya ke Taman Kencana, tujuan kita makan siang dan numpang sholat di Macaroni Panggang. Beberapa kali ke sini, malah belum pernah nyobain macaroninya, soalnya tiap ke sini sebelumnya selalu makan lasagna.


penampakan macaroni panggang dan shrimp rissoles yang sudah dimutilasi (so sorry for the bad pic)

Karena suami nggak terlalu suka pasta, makanya saya cuma pesan macaroni panggang special ukuran kecil, untuk dimakan sendiri aja, itupun hampir nggak habis. Somehow ada aroma kayak sangit gitu di macaroninya, nggak tau emang aslinya gitu apa nggak sih. Untuk suami, saya pilihkan shrimp rissoles yang ternyata ukurannya hampir sama dengan tangan saya. Dan sejujurnya saya lebih suka risollesnya dibading si macaroni, hehe. Selesai makan, pas mau bayar di kasir ternyata ada juga brownies panggang, bungkus satu deh buat tetangga.

Oke, sudah makan, sudah kenyang, saatnya ngejar kereta. Dari Taman Kencana kita jalan turun ke bawah, kalau dari pintu keluarnya Macaroni Panggang nengok kanan, langsung perempatan kan ya, nah dari perempatan itu ambil kiri, terus jalan aja sampe mentok nemu jalan raya, nyebrang, naik angkot nomor 03 ke stasiun. Alhamdulillah, setelah lari-larian masih dapet kereta jam 2 kurang. 

Besok kita ke mana lagi ya?


MP









Friday, August 30, 2013

Hi!

Hi!
Sudah tiga bulan sejak terakhir kali posting di sini dan nggak update-update lagi. Ckckckck. Pemalas.

Karena males nginget-nginget ada apa aja tiga bulanan ini, jadi saya mau posting gambar aja ya.

Juni

tumpengnya gede, kayak orangnya :D

Tumpeng di atas itu spesial dibuat untuk suami, kebetulan pas dia ulang tahun kemaren pas kita lagi di Solo. Ibu mertuaku keren banget ya, itu semua dibikin sendiri lho! Oiya, kalau ada yang bisa melihat hiasan di pinggiran tumpeng itu, yang dari daun pisang, itu salah satunya saya yang bikin lho *bangga. Iya, lihat aja yang paling aneh bentukannya yang mana :D


Juli

kue hasil malpraktek

Nah pas bulan puasa kemaren, salah satu hal yang menyenangkan adalah, bikin kue jadi-jadian ini bareng suami. Meskipun bentukannya aneh, tapi rasanya nggak kalah aneh lho :D tapi seneng rasanya bisa melakukan hal-hal nggak penting kayak gini bareng suami, apalagi di tengah kesibukan kerjaan pas puasa kemaren. Jujur, sedih rasanya saat lagi semangat-semangatnya ibadah (karena banyak temennya), kerjaan kantor justru lagi lumayan-lumayannya. Meskipun saya ini nggak punya peran penting di kerjaan, cuma figuran, garnish, you named it lah ya, tapi tetep aja beberapa kali dalam seminggu harus pulang telat, sampe rumah udah jam 9 jam 10an,  tarawih di masjid juga udah bubar. Saat yang lain lagi pada tarawih berjamaah, atau lagi tadarusan, bisa jadi saya masih di kantor atau di jalan. Sampe rumah juga udah capek, itu meninggalkan rasa bersalah tersendiri. Bukanya sok rajin, sok alim, tapi justru karena saya ini imannya masih lemah dan labil. Malah curcol.


Agustus


seadanya

seadanya lagi

Agustus tiba, saatnya mudik! Saatnya bersilaturahim sama teman-teman lama, sama sodara-sodara. Berhubung kita ga kepikiran nenteng-nenteng kamera, jadilah cuma dokumentasi seadanya dari hp :(
gapapa juga sih, yang penting silaturahimnya.

Itu sedikit update basi dari saya, hehe :D





Tuesday, May 14, 2013

Escape: De Daunan Boutique Guest House, Gallery and Garden


Lanjutan postingan sebelumnya, sekarang kita bahas soal penginapan dulu ya. Waktu awal-awal kita, saya dan pooh maksudnya, diskusi soal penginapan, kita tertarik banget buat nginep di Harris atau Solaris yang mana lokasinya di Kota Malang – dan affordable, tentu saja. Tapi, setelah dipikir-pikir, karena tempat-tempat yang akan dikunjungi kebanyakan adalah di Kota Batu, akhirnya kita putuskan untuk nginep di Batu aja, biar lebih simple.

Perburuan dimulai. Dari hasil googling sana-sini, ada beberapa pilihan sih, tapi akhirnya kita pilih nginep di De Daunan aja. Kenapa? Karena dari hasil review beberapa blogger yang saya baca, De Daunan ini menawarkan konsep yang berbeda dari hotel kebanyakan. Lebih homey katanya. Dan yang penting, bersahabat dengan kantong. Bungkus!

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, kita dapat jemputan gratis dari De Daunan (for free, yay!). Yang jemput kita namanya Pak Sugeng kalau saya nggak salah ingat, beliau ini kayaknya driver Ibu Rien Samudayanti, yang punya penginapan ini. Jadi kalau ada yang mau minta untuk dijemput, janjian dulu ya, paling nggak seminggu sebelumnya.

Dari Bandara Abdurrahman Saleh ke De Daunan kemarin perlu sekitar satu jam, karena memang agak macet di Malang. Tapi kalau lagi nggak macet sih, katanya cuma perlu sekitar 30-40 menit aja. Sampai di penginapan udah hampir jam 12, matahari lagi garang-garangnya. Untung banyak tanaman, jadi nggak terlalu menyengat panasnya. Kita langsung ditunjukin tempat yang udah kita pesan sebelumnya, di Sirih. Begitu datang, kita akan disuguhi welcome drink dan welcome snack, yang isinya buah-buahan hasil kebun sendiri.
Di deDaunan style penginapannya dibuat semacam cottage gitu, namanya diambil dari nama-nama tumbuhan, misal Sirih,  Kemuning,  Kecubung, Dangan, Waru.  Di antara cottage-cottage itu ditanami macam-macam tanaman, asri banget. Di Sirih, misalnya, begitu kita buka pintu cottagenya, kita langsung ketemu kebun sayur. Ijooooo.

penampakan cottage Sirih dari samping



ini kebun seladanya, ijoooo banget

Soal kamarnya,  menurut saya, memang bener sih, mirip kamar di rumah. Begitu masuk cottagenya, ada semacam ruang depan dengan sepasang kursi dan meja, TV, bale-bale dan kipas angin. Kalau siang, di ruang depan ini rasanya masih agak panas, padahal sudah ada kipas angin. Untung kamar tidurnya dilengkapi AC, jadi bisa ngadem di kamar. Kamar mandinya, bisa dibilang biasa, kayak kamar mandi di rumah aja, nggak ada bathtub *toyor. Tapi tenang aja, cukup bersih dan terawat kok. Di kamar mandi ada closet duduk, bak mandi, shower. Air panasnya juga nggak perlu nunggu lama. Pihak De Daunan juga sudah menyediakan handuk dan toiletries sebenernya, tapi ya seadanya. Untungnya, saya terbiasa membawa toiletries lengkap tiap kali bepergian, karena minimarket terdekat (seingat saya) agak jauh dari penginapan.


kamar tidurnya, sorry udah dicak-acak :D

Untuk soal sarapan, seperti yang sudah dibahas oleh banyak orang, memang tergolong standar, dalam artian nggak banyak pilihannya. Tapi kalau menurut saya sih itu sudah cukup. Di hari kedua, misalnya, kita dapat menu sarapan gado-gado yang sayurannya dari hasil kebun sendiri, fresh banget, enak, dan sehat. Oiya, jangan kaget ya, kalau pas sarapan temennya bule-bule. Menurut cerita Pak Sugeng, De Daunan sering banget dapat tamu orang luar. Kayak pas saya sarapan, hari pertama ketemu sama beberapa orang Jepang, dan hari berikutnya beberapa orang Perancis. Mungkin mereka baca rekomendasi tripadvisor kali ya :D

Di dekat restonya, ada lobi lengkap dengan kursi dan bale-bale, asik buat ngobrol sambil santai-santai. Ada permainan congklak, catur, ada juga buku-buku bagus semacam ensiklopedia yang bisa dibaca, tapi sayangnya kok ya nggak bisa dibawa pulang, hehe. Buat yang bisa main pingpong, ada meja pingpong lengkap dengan bats dan bolanya juga. Oiya, kalau mau nginep di sini, usahakan jangan bangun siang, biar bisa jalan-jalan menikmati pemandangan pagi dengan Gunung Arjuna jadi latar belakangnya, kayak gini:

cantik kan?

Yang perlu dipertimbangkan, menurut saya, adalah akses transportasinya, mengingat lokasinya yang ada di tengah perkampungan penduduk dan bukan di tengah kota. Ini menurut saya ya. Tapi kalau buat kita sih, itu nggak masalah, karena kebetulan tempat-tempat yang mau kita kunjungi nggak terlalu jauh dari sini. Buat yang mau jalan-jalan tapi nggak bawa alat transportasi pribadi, pilihannya kalau nggak sewa mobil ya panggil taksi. Buat yang mau mesra-mesraan sama pasangan, bisa juga sewa sepeda motor dari sini, tarifnya Rp50.000 per 6 jam, dan fleksibel kok, nggak harus sewa 6 jam juga.

Dengan semua kelebihan dan kekurangannya, puas deh nginep di sini, kapan-kapan kalau ada rezeki lagi, dan ada kesempatan main-main lagi ke Batu, bisa  dipertimbangkan untuk mampir ke sini lagi.

Update! ternyata masih ada sisa-sisa foto di kamera hp ni, hehe. Check 'em out yes,


kebun sayur



another kebun sayur :D



kebun sayur lagi. ada penampakan cottage Sirih dari depan


koleksi tanamannya macem-macem. di ujung ada beberapa jenis burung juga,
cuma nggak kliatan di foto ini :D



ini kolam renangnya


bonus penampakan ni. sendal jepitnya hits banget kan? ;)



Monday, May 13, 2013

Escape! (Prolog)

Hi!

Akhirnya 'nyasar' lagi di sini, hehe, maaf ya lama ga dibesuk *pukpuk. Sebenernya banyak banget yang mau saya ceritakan di sini, saking banyaknya sampai bingung mau mulai dari mana. Tar deh dicicil satu-satu, sekarang kita mulai dari cerita soal escape aja ya :D

Minggu lalu, akhirnya saya dan pooh punya kesempatan untuk melarikan diri. Dengan modal nekat, kami memutuskan untuk mengunjungi Stone City a.k.a. Kota Batu. Seingat saya, ini adalah kali pertama kami pergi melarikan diri jauh dari Kota Solo. Ndeso banget ya. Dengan budget seadanya, informasi sedapatnya, jadilah kami nekat memutuskan untuk pergi ke sana. Kenapa? Ga ada alasan khusus, cuma pengen memulai ritual 'pelarian diri' dari yang dekat-dekat dulu aja, secara geografis dan kultur masyarakatnya.

Dari Jakarta, kita berangkat hari Minggu flight pertama ke Malang. Waktu tempuh Soetta - Abdurrahman Saleh sekitar 90 menit. Pesawat yang kita tumpangi ini ternyata pesawat piyik, kecil, tv-nya ga ada di tiap kursi, jadi rada nyesel ga bawa shinchan :D tapi gapapa, untung dapet gratisan tuker mileage GFF. Sampai bandara Abdurrahman Saleh sekitar jam 10.30, disambut matahari terik menyengat. Kirain Malang itu dingin, ternyata panas juga, mungkin karena ini Bulan Mei?

Dari bandara, kita dapat jemputan gratis ke penginapan yang lokasinya di daerah Batu.  Dari bandara ke penginapan butuh waktu selama sekitar satu jam, karena jalanannya lagi rada macet. IMO, tata kota Malang itu kayaknya nggak jauh beda sama Solo. 

Tempat-tempat yang kita kunjungi selama di Batu nggak banyak, karena kita juga bingung mau ke mana. Yang jelas, sekarang kita udah nggak penasaran lagi sama alun-alun Kota Batu, Jatim Park 2, Selecta, Batu Night Spectacular, dan Toko Oen yang katanya istimewa itu.

Cerita selengkapnya di postingan selanjutnya ya ;)


pooh lagi nunggu sarapan di Soetta. Gayanya sok cool banget deh :p

tanaman tebu di sepanjang jalan keluar Bandara Abdurrahman Saleh. Cantik :)