Monday, December 17, 2012

Semangka


(picture taken from here)


 Saya nggak suka orang ember, seperti saya nggak suka semangka.






Tuesday, December 11, 2012

We’re Officially Moved


Weekend kemarin akhirnya jadi pindah juga. Sempet ragu,mau pindahan hari sabtu apa minggu aja, soalnya sampai hari jumat pagi tu progress packing-mem-packing baru mencapai sekitar dua puluh persen. Tapi untung ada bala bantuan yang berdatangan, hehee. Terima kasih untuk bapak, ibu dan ibu mertua yang nggak tau gimana caranya-kayak bandung bondowoso aja-berhasil mengambil alih kemudi per-packing-an, sampai akhirnya jumat petang pas pulang kerja hampir semuanya udah rapi jali aja.Yay!

Jumat malamnya, kita terkapar semua, padahal perasaan saya sih nggak ikutan bantu-bantu apaa gitu, tapi ko ikutan cape. Karena kasurnya udah ditaro di depan tv semua, jadilah kami rame-rame tidur disitu, udah kayak ikan asin kali penampakannya. Nggak lama tidur, eeh kebangun, berusaha tidur lagi, tapi kebangun lagi. Mungkin merasa berat ninggalin rumah kali ya.

Karena nggak bisa-bisa tidur, jadilah paginya susah banget mau bangun. Dibangunin suami jam lima lewat, rasanya ngantuuk banget. Akhirnya terpaksa bangun juga, karena suami mau jemput teman yang mau bantuin pindahan. Sementara itu saya nemenin  nyusulin ibu mertua ke pasar. Ibu mertua saya ini emang cinta banget sama pasar deket rumah, dan surprisingly pas ketemu di sekitaran pintu pasar, beliau ini bawaannya udah banyak aja, padahal baru sepuluh menitan meninggalkan rumah.

Sekitar jam tujuh kurang, ternyata mobil yang mau ngangkut barang kita udah datang, ini lebih cepat dari perkiraan semula. Jadilah kami pontang-panting beresin apa yang belum beres, ternyata kulkas lupa belum dimatiin, padahal bunga esnya numpuk di freezer, ketauan deh ga pernah dibersihin kulkasnya :D
Singkat cerita, pas udah sampe di rumah baru, saya super duper shock. Gimana enggak, tumpukan barang yang seabrek-abrek itu memenuhi seantero rumah yang hanya menyisakan sedikit celah untuk bisa dilewati satu orang saja. Barang-barang ini, pengen rasanya buang-buangin aja sambil merem, tapi pas inget nggak punya duit lagi buat belinya nanti, nggak jadi deh :D

Paginya langsung tu para orang tua gerilya bongkar-bongkarin kardus, pindah-pindahin barang, ini-itu, karena saking bingungnya, yang bisa saya lakukan adalah diam. Iya, daripada mengganggu mereka. Siangnya udah lumayan, barang-barang sudah mulai pindah tempat, paling nggak, sudah ada jalan untuk bisa papasan dua orang. 

Sementara para orang tua beberes, saya saya suami ngabur bentar nyari buah tangan untuk dibagikan ke tetangga kanan-kiri, buat salam perkenalan gitu ceritanya. Yang paling kerasa di sini tu, kayaknya orang-orangnya kurang bersosialisasi, antar tetangga belum tetntu saling kenal, beda banget sama lingkungan pas di cempaka baru. Ini sedikit banyak bikin kami canggung juga pas memperkenalkan diri. Tapi alhamdulillah kayaknya belum nemu tetangga yang aneh-aneh. Jangan deh.

Hari seninnya saya memutuskan untuk nggak ngantor dulu, mengingat kondisi rumah masih belum beres. Sampai senin sore udah lumayan lah ya, tapi tetep aja masih ada barang-barang di kardus yang belum sempet dibongkar. Tar lah, sambil kesini sambil diberesin :D 

Sorenya kami mengantar para orang tua ke stasiun. Jauh ya rasanya, biasanya sepuluh menit nyampe stasiun, ini sejam baru nyampe. Pas balik dari stasiun, pengennya balik ke cempaka baru aja, nggak nyampe sepuluh menit udah nyampe rumah, bisa mampir beli bakso gajang mungkur, terus nonton OVJ sambil gulang-guling di kasur, terus besoknya bisa bangun jam enam, haha *plak


buah tangan untuk kenalan ;)





Friday, December 7, 2012

Gonna Miss You

Aaaaaaaaaaaaaaak udah Jumat sore aja. Artinya, malam ini sepertinya akan jadi malam terakhir nginep di cempaka baru.

Pagi tadi bapak, ibu, dan ibu mertua sudah datang untuk memberikan bala bantuan. Udah makin banyak aja barang yang berhasil dipak di kardus, hasil lembur semalem sampe jam sebelas, yang dilanjut pagi tadi mulai jam setengah empatan.

Dan makin ke sini, rasanya mulai agak berat meninggalkan tempat ini. Saya suka suara bapak-bapak di samping rumah yang masih terdengar dari tempat saya nonton tv sampe dini hari (paling nggak kalau lagi sendirian di rumah). Saya suka suara burung yang mulai terdengar sekitar jam limaan. Suara mobil yang dikeluarkan dari garasi tetangga depan rumah menandakan jam setengah enam. Suara penjual roti keliling akan terdengar lewat jam enam, disusul ibu-ibu penjual kue menjelang jam tujuh.

Sepertinya akan nggak ada lagi bangun jam enam, kemudian malas-malasan, guling-guling di kasur selama lima belas menitan. Ga ada acara setrika sambil nonton ragam indonesia. Ga ada cerita berangkat jam tujuh lewat tapi tetep aman absennya, hehe.


"Tinggal di sini sebenernya enak ya, kemana-mana deket"
"Iya sih"
"Gapapa, kita tinggal dulu di sana, nanti kalau ada rejeki beli rumah disini" *plak
"Hehehe, kayak bu rian ya?"
Aamiin ;)


Cempaka Baru, I'm gonna miss you :*



Thursday, December 6, 2012

Kamis Terakhir di Kota Ini

Terbangun dini hari. Kamis terakhir di kota ini.

Yak, kurang dari seminggu lagi kami mau pindahan, melipir ke pinggiran Jakarta, memulai hidup baru di sana. Nantinya, setiap hari kami akan menempuh perjalanan antar kota antar provinsi :D Benar sekali, di puncak musim hujan seperti prediksi banyak orang :)

Ada sih pihak-pihak yang, apa ya istilahnya, semacam meng-undurestimate-kan kemampuan survival saya gitu kali ya. 

"Tar kamu kalo udah di sana tu pasti datengnya siang, penampilannya bluwek, nyampe ruangan tidur-tiduran. Udah gitu ini kan lagi puncaknya musim ujan, daerah bintaro itu kan nanggung, ga ada kereta juga kan? Kalaupun ada kereta mau ke tanah abangnya aja perjuangan banget tuh."

So?

Jadi, untuk Anda yang terhormat perlu ketahui saja ya, saya bukan tipe orang yang suka makan gaji buta. Saya rasa saya cukup dewasa untuk bisa bertanggung jawab pada diri sendiri, dan pada apa yang (seharusnya) jadi tanggung jawab saya. Kita lihat saja nanti, apa saya tetap bisa bekerja, tetap bisa produktif, meski nantinya harus berangkat pagi-pagi buta. Untuk soal transportasi, saya rasa motor kami masih bisa diandalkan (yes, I love motobiking). Kalau mau naik kereta juga bisa. It's not a big deal sepertinya. Terus ya, yang namanya hidup itu sendiri bagi saya adalah perjuangan. Jadi, kalau harus 'berjuang' ke tanah abang terus kenapa?

Saya tahu, Anda bisa mengandalkan mobil Anda untuk mengantar Anda ke mana saja, dari rumah ke kantor, dan sebaliknya. Anda tidak perlu susah-susah berjuang ke tanah abang, ngojek atau naik angkot, tidak perlu juga berdesak-desakan di commuter line, atau hujan-hujanan naik motor menempuh jarak yang tidak dekat. It sounds nice :)

Well, saat ini yang saya sedang lakukan adalah berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Ga cuma dari sisi materi tentunya, tapi kehidupan yang holistik. Saya sadar, segala sesuatu butuh proses (panjang). Nanti kita lihat aja ya hasilnya gimana.





Wednesday, December 5, 2012

D*mn, I Love Jakarta

Paagiii :)

Udah Hari Rabu aja ya. Hmmm berarti waktu tinggal di Jakarta tinggal dua hari lagi. Sedih sih, tapi seneng juga :')

Tumben banget tadi bisa bangun pagi, sesaat setelah adzan subuh berkumandang. Wow banget kan :D

Langsung bangunin suami buat nyicil beres-beres, karena semalem gagal beres-beres (lagi). Nyuci dapet dua kloter, lumayan deh. Nah, pas bagian jemurnya ini ni, rasanya gimanaaa gitu. Sempet terdiam untuk beberapa saat, melihat pemandangan sekitar rumah dari balik jendela berkawat di tempat jemuran di lantai dua rumah kontrakan kami ini. Tanah kosong yang luas, dimanfaatkan tetangga sekitar untuk tempat nongkrong, latihan sepeda, tempat anak-anak tetangga main bola. Jauh di depan sana, ada pohon rimbun yang mungkin jadi sarang burung-burung yang pagi tadi saling berlomba pamer kicauan merdunya, bersahut-sahutan. Suara itu kemudian ditimpali suara ibu-ibu penjual kue keliling yang menjajakan ketan, gemblong, dan jenis panganan lain. Jakarta pagi yang damai.

Pas udah di bawah lagi, sambil beberes apa yang bisa diberesin, ngobrol sama suami.

"Berarti aku ga bisa ke Cempaka Mas lagi dong?"
"Bisa, kan bisa abis pulang kerja kamu bisa kesana, tar dijemput, baru pulang"
"Berarti masih bisa makan Bebek Kaleyo?"
"Bisa aja, kan nanti magrib di kantor terus bisa makan dulu, baru pulang jam 8an"
"Berarti bisa makan nasi bebek belakang sama bakso gajah mungkur juga dong ya?"
--- kemudian diam ---

Ga nyangka juga, ternyata saya bisa cinta Jakarta :D



Note:
Saking pengin menikmati moment-moment terakhir bisa berangkat siang, saya sama suami jadi kesiangan beneran ke kantornya T_____T





Tuesday, December 4, 2012

Sang Pemimpi


Kalau ada lomba mimpi, kayaknya saya bisa jadi salah satu kandidat juaranya ni. Gimana enggak? Setidaknya, dalam sekian menit di setiap hari-hari saya, saya mengisinya dengan menghayal atau memimpikan sesuatu atau beberapa hal sekaligus. Hebat kan? :D

Mimpi saya yang pertama itu, bisa naik haji sebelum umur 40. Kalau menurut saya, di umur-umur 30an sekian itu fisik kita kan masih kuat, jadi ibadahnya bisa lebih maksimal. Iya nggak ya? 

Saya juga punya mimpi kelak bisa bekerja di rumah saja. Melihat tumbuh kembang anak (anak), mengurus keluarga, menata rumah mungil yang cantik, merawat tamannya, melakukan apa yang saya suka, tapi tetap menghasilkan, hehe (tapi bukan lewat MLM ya). Hidup damai di kota kelahiran, jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Menua di sana bersama orang-orang saya sayangi.

(picture taken from here)
mimpi banget ya punya rumah country style kayak gini dan menua di dalamnya :D

 Oiya, saya bersyukur telah lahir dan dibesarkan di Indonesia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tapi saya punya mimpi suatu saat kelak bisa melihat benua biru, atau mungkin benua merah, berkunjung, atau berdiam untuk beberapa saat di salah satu (atau beberapa) negara di sana, hanya sekedar untuk melihat dunia luar itu seperti apa.

Tu kan, pagi-pagi gini aja udah ngayal banyak banget dalam waktu kurang dari setengah jam. Siap-siap dapat award ni :D